LOKASI WISATA ZIARAH " MAKAM KI AGENG TARUB ( JOKOTARUB ) " KURANG LEBIH 12 KM KE ARAH TIMUR DARI KOTA PURWODADI, TEPATNYA DI DESA TARUB, KECAMATAN TAWANGHARJO KABUPATEN GROBOGAN.
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2011

Jaka Tingkir

Bagian 2

Pangeran Trenggana setelah menduduki tampuk pemerintahan Demak Bintara lantas dikenal dengan gelar Sultan Trenggana. Dia memiliki beberapa orang putra-putri pula. Yang sulung bernama Pangeran Prawata, kelak terkenal dengan nama Sunan Prawata. Yang kedua seorang wanita, sangat masyhur keberaniannya. Mahir olah kanuragan, bernama Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat lantas dinikahkan dengan seorang Pangeran pelarian dari Pasai, bernama Raden Thoyyib. Raden Thoyyib adalah salah seorang putra Mughayat Syah, yang kelak mendirikan Kesultanan Aceh (1530 Masehi) dan menjabat sebagai Sultan Aceh pertama. Karena perselisihan dengan ayahnya, Raden Thoyyib meninggalkan Pasai menuju Champa. Di Champa, dia mengabdi di Kerajaan Champa dan berkenalan dengan Patih Kerajaan Champa Cwie-Wie-Hwan.

Karena perselisihan dengan Raja Champa pula, Raden Thoyyib meninggalkan Champa dan berlayar ke Jawa. Cwie-Wie-Hwan ikut serta. Di Jawa, Raden Thoyyib diterima mengabdi di Demak Bintara. Bahkan Raden Thoyyib akhirnya dinikahkan dengan Ratu Kalinyamat. Raden Thoyyib lantas mendapat nama baru, Pangeran Hadiri ( Kata 'HADIRI' berasal dari bahasa Arab yang berarti 'DATANG'. Pangeran Hadiri berarti Seorang Pangeran Yang Datang Dari Seberang : Damar Shashangka). Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadiri terkenal dengan nama Sunan Kalinyamat. Cwie-Wie-Hwan lantas dikenal dengan nama Patih Sungging Bandhardhuwung. ( Makamnya masih ada didaerah Mantingan, Jepara, Jawa Tengah. Satu lokasi dengan makam Sunan Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat : Damar Shashangka )


RATU KALINYAMAT

Ratu Kalinyamat sebelum menikah dengan Pangeran Hadiri atau Sunan Kalinyamat, dulu pernah ikut pula dalam armada Demak yang menyerang Malaka pada tahun 1513 Masehi. Walau seorang wanita, Ratu Kalinyamat tidak bisa dianggap remeh. Konon, Ratu Kalinyamat adalah inkarnasi dari Ratu Sima, Ratu wanita penguasa Kerajaan Kalingga pada rentang waktu 400 Masehi yang memang dulu berkedudukan di Jepara.

Putra ketiga Sultan Trenggana adalah seorang putri, yang kelak dinikahkan dengan Mas Karebet atau Jaka Tingkir!

Fatahillah

Pada masa Sultan Trenggana ini pula, sebelum kedatangan Raden Thoyyib, seorang bangsawan dari Pasai, ikut mengabdi ke Demak. Dia adalah Fatahillah. Karena dulu, saat penyerangan Malaka Fatahillah turut serta membantu lasykar Jawa bahkan terkenal dengan keberaniannya, maka Sultan Trenggana mengangkat Fatahillah sebagai Senopati Agung Demak Bintara. Sebuah jabatan yang tidak main-main. Fatahillah menggantikan kedudukan Sunan Kudus. Bahkan, sesungguhnya Sunan Kudus pulalah yang melobi dan menyokong pengangkatan Fatahillah sebagai pengganti dirinya. Sebaliknya, karena sokongan Fatahillah pula, Raden Thoyyib berhasil mendapat kepercayaan dari Sultan Trenggana dan akhirnya menjadi menantu Sultan. Bahkan Fatahillah-pun menjadi adik ipar Sultan Trenggana. Fatahillahh dinikahkan dengan adik perempuan Sultan Trenggana!

Dari Kesultanan Cirebon, Sultan Cirebon Sunan Gunung Jati memberikan kabar kepada Sultan Demak dan Dewan Wali Sangha bahwasanya Raja Pajajaran Ratu Samian (1521-1535) telah mengijinkan armada Portugis di Malaka untuk mempergunakan pelabuhan Sunda Kelapa sebagai pangkalan bangsa Eropa tersebut! Kesultanan Cirebon kalang kabut! Musuh Islam telah mendapat angin segar untuk bercokol di Jawa.

Ratu Samian dari Pajajaran sengaja mengundang armada Portugis ke Sunda Kelapa karena kedudukan Pajajaran terus-terusan digoyang oleh Kesultanan Cirebon dan Kadipaten Banten. Dengan bantuan armada Portugis, setidaknya pelabuhan Sunda Kelapa sebagai jalur utama perekonomian Pajajaran, bisa aman dari gangguan lasykar-lasykar Islam. Pajajaran dan Portugis telah bersekutu! Portugis menerima permintaan Raja Pajajaran tersebut, karena memang, Portugis-pun juga merasa terus-terusan diganggu oleh armada-armada Islam dalam aktifitas perdagangannya!

Kabar dari Kesultanan Cirebon membuat Dewan Wali Sangha ikut cemas. Serta merta, Sultan Demak, atas persetujuan Dewan Wali, memerintahkan Senopati Agung Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran! Pasukan Demak, dibantu pasukan Kesultanan Cirebon dan pasukan dari Kadipaten Banten menyerbu Sunda Kelapa! Peperangan dengan prajurid Pajajaran tak dapat dielakkan! Pertempuran yang dahsyat itu memakan banyak korban jiwa dikedua belah pihak. Pajajaran dikeroyok tiga kekuatan gabungan, dari Demak, Cirebon dan Banten! Armada Portugis belum tiba di Jawa, sehingga Pajajaran terpaksa menghadapi pasukan Islam ini sendirian!

Pajajaran memang tangguh! Beberapakali pasukan gabungan ini terpukul mundur! Namun pada akhirnya, Sunda Kelapa berhasil dikuasai oleh pasukan gabungan pada tahun 1527 Masehi! Kedatangan armada Portugis terlambat! Sunda Kelapa telah jatuh ketangan orang-orang Islam. Armada Portugis, yang tidak tahu menahu situasi tersebut, harus terpukul mundur kembali ke Malaka! Kemenangan ini membuat orang-orang Islam bersuka cita! Sunda Kelapa lantas diakui sebagai wilayah Demak Bintara. Atas perintah Sultan Trenggana, nama Sunda Kelapa diganti dengan Jayakarta ( Jaya : Kemenangan, Karta : Kota. Jayakarta : Kota Kemenangan : Damar Shashangka). Lama-lama, nama Jayakarta berubah menjadi Jakarta hingga sekarang.

Fatahillah dikukuhkan sebagai Adipati Jayakarta. Melihat kegagahan Fatahillah, Sunan Gunung Jati meminta ijin kepada Sultan Demak untuk meminjam tenaga Fatahillah guna menundukkan Pajajaran! Sultan Demak memberikan ijin. Maka berturut-turut, pasukan Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah dan bantuan pasukan Demak serta Banten, berhasil menjebol pertahanan Kadipaten-Kadipaten wilayah Pajajaran. Kadipaten Talaga yang dipimpin oleh Prabhu Pacukuman pun jatuh!

Namun, Fatahillah harus mengakui kehebatan Kadipaten Galuh. Prabhu Cakraningrat, penguasa Galuh yang didampingi Patih Arya Kiban, terkenal kuat! Berkali-kali pasukan gabungan yang dipimpin Fatahillah terpukul mundur! Korban dari pihak Islam tidak terbilang lagi! Yang sangat aneh, setiap kali keraton Galuh hendak diserang, seluruh keraton tiba-tiba lenyap dan terlihat menjadi samudera luas! Seluruh pasukan Islam kebingungan dan linglung!

Atas siasat jitu Sunan Gunung Jati yang menyusupkan putri angkatnya, Ni Mas Gandasari, yang terkenal cantik luar biasa itu, maka rahasia taksu niskala atau tumbal gaib Kadipaten Galuh, yang berupa batu berbentu Lingga Yoni, berhasil dicuri!

Prabhu Cakraningrat tidak menyadari bahwa Ni Mas Gandasari berasal dari Kesultanan Cirebon! Kecantikan Ni Mas Gandasari memikat hati Prabhu Cakraningrat! Setelah beberapa lama Ni Mas Gandasari mengabdi sebagai istri selir Raja Galuh, pada akhirnya dia berhasil mengorek keterangan dimana ditempatkan taksu niskala sebagai tumbal Kadipaten Galuh berada. Begitu berhasil mengorek keterangan dari bibir Raja Galuh sendiri, Ni Mas Gandasari diam-diam mengambil taksu niskala tersebut dan membawa lari!

Galuh kecolongan! Begitu taksu niskala telah hilang dari Keraton Galuh, pasukan Islam dibawah pimpinan Fatahillah lantas menyerbu Galuh! Prabhu Cakraningrat memimpin pasukan Galuh sendiri. Bersama Patih Arya Kiban, beliau maju ke garis depan! Raja dan Patih Galuh ini mengamuk hebat di palagan! Prabhu Cakraningrat dan Patih Arya Kiban memang sudah berniat Perang Puputan! Perang habis-habisan! Dan pada akhirnya, keduanya gugur mengukuhi bhumi pertiwi Pajajaran! Dan Galuh berhasil dijebol pasukan Fatahillah!

Maka berturut-turut kemudian, wilayah Pajajaran berhasil dijebol pasukan Fatahillah satu persatu! Hingga akhirnya, pada tahun 1543, pada saat Pajajaran diperintah oleh Prabhu Ratu Dewata (1535-1543 Masehi), Pajajaran benar-benar dikuasai tentara Islam!

Keberhasilan Fatahillah membuat Sunan Gunung Jati menyukai bangsawan Pasai tersebut. Fatahillah akhirnya dinikahkan dengan putri Sunan Gunung Jati yang bernama Ratu Wulung Ayu. Begitu Fatahillah meletakkan jabatan sebagai Adipati Jayakarta, Fatahillah-pun meminta berhenti dari jabatan sebagai Senopati Demak Bintara. Jayakarta diserahkan kepada Tubagus Angke, sedangkan Fatahillah memilih tinggal di Cirebon. Fatahillah lantas dikenal dengan gelar Tubagus Pasai.

Namun setelah Sunan Gunung Jati menyerahkan tampuk pemerintahan Kesultanan Cirebon kepada putranya, Pangeran Muhammad Arifin pada tahun 1547 Masehi, Fatahillah atau Tubagus Pasai, diminta menjabat sebagai Penasehat Agung Kesultanan Cirebon mendampingi Pangeran Muhammad Arifin.

Namun lima tahun kemudian, yaitu pada tahun 1552 Masehi, Sultan Muhammad Arifin wafat. Sunan Gunung Jati lantas menyerahkan tampuk pemerintahan Cirebon kepada Pangeran Seba Kingkin, salah seorang putra Sunan Gunung Jati dari istri yang lain dan yang selama ini menjabat sebagai Adipati Banten. Maka, pusat pemerintahan Cirebon beralih ke Banten. Pangeran Seba Kingkin lantas dikenal dengan gelar Sultan Hasannuddin (1552-1570 Masehi). Di Cirebon sendiri tampuk pemerintahan dipegang oleh Arya Kemuning, menantu Fatahillah. Arya Kemuning hanya berkedudukan sebagai Adipati. Maka dia dikenal dengan gelar Adipati Carbon I.

Pada tahun 1568, tepat berusia 120 tahun, Sunan Gunung Jati wafat.

Mas Karebet menuju Demak Bintara

Putra tunggal Ki Ageng Pengging yang diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir, telah tumbuh dewasa. Begitu menginjak dewasa, Nyi Ageng Tingkir selalu dibuat was-was dengan tingkah laku keponakannya ini.

Menginjak usia lima belas tahunan, Mas Karebet gemar pergi ke tengah hutan belantara. Hal ini dilakukannya berhari-hari tanpa pulang. Pulang-pulang cuma sebentar, lantas pergi lagi. Wilayah Tingkir yang masih dikelilingi hutan rimba, kini dipegang oleh pejabat baru yang ditunjuk oleh Sultan Demak. Nyi Ageng Tingkir, sebagai seorang janda bekas Adipati, hidup berkecukupan dari hasil bersawah. Nyi Ageng Tingkir tidak memiliki putra. Praktis, Mas Karebet, keponakannya itu, sangat-sangat beliau sayangi.

Namun, kegemaran Mas Karebet yang sangat suka bepergian dari rumah dan sering memasuki hutan belantara, sangat-sangat mencemaskan Nyi Ageng Tingkir. Manakala Mas Karebet pulang, berkali-kali Nyi Ageng Tingkir mengutarakan kecemasannya. Namun setiap kali pula Mas Karebet menjawab :

“Ibu, jangan khawatir. Di hutan saya banyak memiliki teman pertapa Shiwa Buddha. Saya ke hutan tidak hanya sekedar bermain-main, tapi ngangsu kawruh (menimba ilmu) dari beliau-beliau.”

Walau begitu, Nyi Ageng tetap saja mencemaskan keselamatan putra keponakannya yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri. Hingga pada suatu ketika, Nyi Ageng memanggil seorang ulama Islam ke kediaman beliau, khusus didatangkan dan diupah untuk mengajar Mas Karebet. Tapi Mas Karebet sama sekali tidak tertarik. Dia tetap meneruskan kegemarannya mengunjungi para pertapa didalam hutan.

Kebiasaan ini terus berlanjut hingga usia Mas Karebet menginjak dua puluh lima tahun. ( Mas Karebet lahir pada tahun 1499 Masehi : Damar Shashangka) Dan pada akhirnya, kesabaran Nyi Ageng Tingkir benar-benar habis. Dia melarang Mas Karebet pergi dari rumah. Nyi Ageng mengutus dua orang pembantu untuk terus mengawasi Mas Karebet. Mas Karebet diperintahkan Nyi Ageng untuk ikut bekerja bersama pembantu-pembantu yang lain disawah!

Mas Karebet mengalah. Setiap hari, kini Mas Karebet bekerja disawah bersama pembantu-pembantu yang lain.

Pada suatu ketika, manakala Mas Karebet tengah melepas lelah disebuah gubug diareal pesawahan, tanpa sengaja Mas Karebet melihat seseorang berpakaian hitam-hitam dengan membawa tongkat tengah berjalan ditengah pematang pesawahan. Orang itu kelihatan sudah sangat sepuh. Namun masih terlihat tegap saat melangkah. Dia sendirian. Berjalan pelahan ditengah sengatan terik mentari. Pematang yang membujur membelah areal pesawahan dan pada ujungnya akan melewati gubug dimana Mas Karebet melepas lelah itu dititinya pelahan.

Mata Mas Karebet tak lepas-lepas memperhatikan orang tersebut. Mas Karebet-pun tengah sendirian. Para pembantu yang lain, masih tampak sibuk bekerja. Dan anehnya, mereka semua seolah tidak melihat adanya orang tua berpakaian hitam-hitam yang tengah berjalan dipematang sawah ini.

Dan, begitu sosok tua ini sedemikian dekatnya dengan Mas Karebet, mendadak dia menghentikan langkahnya. Dia menatap Mas Karebat sambil tersenyum. Wajahnya luar biasa cerah. Mas Karebet tertegun...

“Ngger, Aneng kene dede pakaryanira. Ananging sejatine, pakaryanira aneng Keraton Demak. Wis, ngger, pamita marang ibunira, mangkata suwita marang Kangjeng Sultan Demak. Weruha, ngger. Sira iku bebakale Ratu Tanah Jawa!”

(Anakku, disini bukanlah tempatmu bekerja. Akan tetapi sesungguhnya, pekerjaanmu ada di Keraton Demak. Sudahlah anakku, mohon ijinlah kepada ibumu, berangkatlah mengabdi kepada Kangjeng Sultan Demak. Ketahuilah anakku, kamu adalah calon Raja Tanah Jawa!)


Mas Karebet tersentak. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa. Dan orang tua itu segera berlalu. Mata Mas Karebet tak lekang-lekang mengikuti kepergian sosok misterius tersebut. Otaknya berputar, mencerna kata-kata yang barusan didengarnya.

Dan hanya sekejap Mas Karebet melepaskan pandangan matanya pada sosok misterius tersebut, dia sejenak menunduk, mengingat kata-kata orang tua tadi, sedetik kemudian dia menoleh mencoba kembali mengamati sosok aneh yang barus saja berlalu. Tapi aneh! Sosok itu sudah tidak ada! Padahal pematang sawah itu masih panjang jaraknya dari jalan desa! Mas Karebet tercengang! Sontak dia bangkit mencari-cari kemana orang tadi berjalan! Tidak ada! Orang berpakaian hitam-hitam itu benar-benar raib! Hilang begitu saja!

Mas Karebet kelimpungan! Masih terngiang kata-kata orang misterius barusan! Segera Mas Karebet memutuskan untuk pulang kerumah, melaporkan kejadian tersebut kepada ibunya, Nyi Ageng Tingkir!

Mendapati cerita Mas Karebet, Nyi Ageng Tingkir mengernyitkan kening dan bertanya :

“Ngger, bagaimana ciri-ciri orang tersebut?”

Mas Karebet menjawab :

“Angagem sarwa wulung. Busana wulung, iket wulung.”

(Mengenakan pakaian serba hitam. Berjubah hitam dan berikat kepala hitam)


Nyi Ageng Tingkir memekik kaget :

“Itu Kangjeng Sunan Kalijaga! Sudah, ngger, berangkatlah ke Demak. Aku mempunyai seorang kakak kandung yang menjabat sebagai Lurah Kaum ( Kepala pengurus masjid Istana : Damar Shashangka)), namanya Ki Ganjur. Sudahlah, aku kirim kamu kesana. Ikutlah pamanmu di Demak Bintara!”

Nyi Ageng Tingkir begitu gembira. Secepatnya dia mempersiapkan keberangkatan Mas Karebet ke Demak Bintara. Dua orang pembantu diutus mengiringi keberangkatan putra kesayangannya tersebut.

Keesokan harinya, Mas Karebet diantar dua orang pembantu berangkat ke ibu kota Demak.

Di Demak, ketiganya langsung menuju kediaman Ki Ganjur, Lurah Kaum. Setelah menitipkan Mas Karebet, dua orang pembantu tersebut mohon ijin pulang kembali ke Tingkir. Mas Karebet mulai tinggal diibu kota Demak tepat pada tahun 1524 Masehi.

Ki Ganjur tahu siapa Mas Karebet. Sosok pemuda trah Pengging satu-satunya. Trah pewaris tahta Majapahit yang sesungguhnya. Ki Ganjur-pun tahu, Mas Karebet pemeluk Shiwa Buddha. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Ki Ganjur, karena dia melihat masa depan Mas Karebet sangat cerah dikemudian hari.

Mas Karebet, lantas dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir oleh orang-orang dilingkungan Kaum. Jaka Tingkir berarti seorang perjaka dari Tingkir. Tugas Mas Karebet atau Jaka Tingkir setiap hari hanyalah membersihkan areal masjid Demak. Jaka Tingkir melakukan tugas tersebut dengan sepenuh hati. Walau dia tidak ikut menggunakan tempat ibadah itu bagi dirinya, namun bagi Jaka Tingkir, tak ada bedanya membersihkan sebuah tempat ibadah suci umat lain maupun tempat ibadah suci bagi pemeluk Shiwa Buddha.

Tak ada yang berani protes atas kehadiran Jaka Tingkir ditempat itu. Karena Jaka Tingkir adalah keponakan Ki Ganjur sendiri. Berbulan-bulan Jaka Tingkir tinggal ditempat Ki Ganjur. Hingga pada suatu ketika, Ki Ganjur mendapat ide jitu untuk menarik perhatian Sultan Demak.

Ki Ganjur menyarankan Jaka Tingkir untuk menyengaja terlambat saat membersihkan masjid Demak tepat pada hari Jun'at mendatang. Tujuannya, apabila nanti Sultan Trenggana hadir hendak melaksanakan shalat Jum'at seperti biasanya, Sultan Trenggana biar melihat Jaka Tingkir yang masih sibuk membersihkan areal masjid. Dengan cara itu, Sultan Trenggana pasti akan kurang berkenan. Manakala Sultan Demak marah, biar Ki Ganjur yang akan memohonkan ampunan, sekaligus Ki Ganjur akan membuka jati diri Jaka Tingkir dihadapan Sultan Demak.

Ki Ganjur akan meyakinkan Sultan Demak bahwasanya sosok Jaka Tingkir sangat-sangat dibutuhkan oleh Kesultanan. Jaka Tingkir masih putra Ki Ageng Pengging. Sosok yang sangat disegani sisa-sisa bangsawan Majapahit. Dengan memanfaatkan Jaka Tingkir, Sultan Demak bisa menaklukkan kekuatan-kekuatan Shiwa Buddha yang dibeberapa daerah masih juga terus mengadakan perlawanan, baik yang terang-terangan maupun gerilya.

Ki Ganjur dan Jaka Tingkir sepakat.

Pada hari Jum'at yang sudah ditetapkan, pagi-pagi sekali masjid Demak sudah ramai-ramai dibersihkan oleh para Kaum. Sultan Trenggana menjelang siang hari pasti akan hadir untuk melaksanakan shalat Jum'at di sana. Beliau akan hadir beserta para pejabat yang lain. Namun Jakatingkir, tidak terlihat.

Menjelang siang hari, baru Jaka Tingkir muncul. Dia menyibukkan diri membersihkan ruangan dalam masjid. Padahal, waktu dilaksanakannya shalat Jum'at sudah sedemikian dekat. Para Kaum keheranan melihat ulah Jaka Tingkir. Dia diperingatkan bahwasanya rombongan Sultan akan segera hadir. Namun Jaka Tingkir seolah tidak peduli.

Dan benar, sesaat kemudian dihalaman masjid terlihat ramai. Rombongan Sultan Trenggana beserta para pejabat Demak telah hadir! Para Kaum kalang kabut, mereka cepat berlarian keluar menyambut kedatangan rombongan Sultan.

Begitu Sultan Trenggana hendak memasuki ruang dalam masjid, dia melihat didalam masih ada seorang pemuda yang tengah sibuk membenahi ruangan. Sultan Demak keheranan. Siapakah orang yang kurang ajar tidak mau menyambut kehadirannya. Kehadiran seorang Sultan Demak Bintara?

Para Kaum geger!

Sultan Trenggana segera memerintahkan prajurid Demak memanggil Jaka Tingkir! Jaka Tingkir pura-pura kaget dan segera berlari menghampiri Sultan Demak begitu beberapa prajurid dengan kasar menghardik dia. Jaka Tingkir menghaturkan sembah seraya memohon ampunan. Dengan posisi bersila dan kedua tangan tercakup didepan wajah.

Sesaat Sultan Trenggana mengamati sosok pemuda yang bersila didepannya. Tampan dan gagah. Bukan keturunan rakyat biasa. Sultan Trenggana lekat-lekat mengamati sosok pemuda itu, lantas dia bertanya :

“ Kamu siapa? Tidak tahukah sopan santun seorang kawula apabila Gusti-nya datang?”

Jaka Tingkir menjawab :

“Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Saya Jaka Tingkir, putra keponakan Ki Ganjur. Mohon ampun atas ketidak sopanan hamba...”

Sultan Trenggana heran. Kata-kata Jaka Tingkir sangat tertata dan halus. Siapakah gerangan pemuda ini? Dalam hati Sultan Trenggana bertanya-tanya.

(Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan, begitu Sultan Trenggana hadir, Jaka Tingkir melompati kolam masjid Demak dalam posisi membelakangi Sultan. Hal ini membuat Sultan kaget sekaligus tersinggung. Melompati kolam masjid sambil membelakangi Sultan sesungguhnya melambangkan bahwa Jaka Tingkir telah 'melompati tata aturan tempat suci seorang Sultan' : Damar Shashangka)

Mendadak seseorang tergopoh-gopoh menghampiri Sultan Demak sambil menyembah dan bersila disamping Jaka Tingkir. Dia adalah Ki Ganjur.

“Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Ini adalah putra keponakan saya yang baru datang dari desa. Mohon ampun atas kelancangannya. Tolong dimaklumi, karena dia masih bodoh dan belum menahami tata krama Keraton.”

Karena waktu shalat Jum'at sudah harus dimulai, Sultan Trenggana-pun lantas berkata :

“Seusai shalat Jum'at, kamu harus menghadap ke Istana!”

Ki Ganjur dan Jaka tingkir menunduk. Umpan mereka telah dimakan. Dan rombongan Sultan Demak-pun memasuki masjid Agung untuk menunaikan shalat Jum'at.

JAKA TINGKIR

Oleh : Damar Shashangka


Bagian 1

Catatan ini adalah kelanjutan catatan-catatan saya sebelumnya, yaitu Misi Peng-Islam-an Nusantara, Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syeh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging.
-Damar Shashangka-

Demak Bintara, Kesultanan Islam pertama di Jawa, yang berdiri pada tahun 1479 Masehi, setelah berhasil satu persatu menumbangkan penguasa-penguasa keturunan Majapahit, kini mulai menancapkan kuku kekuasaannya di tanah Jawa. Sultan Syah Alam Akbar Jiem Boen-ningrat I atau Raden Patah, menjadi penguasa tunggal pewaris dinansti Majapahit.

Raden Patah memiliki beberapa orang putra-putri, dan yang terkenal diantaranya adalah Raden Yunus, sebagai putra sulung, kelak terkenal dengan nama Adipati Yunus ( Dipati Unus) dan juga terkenal dengan gelar Pangeran Sabrang Lor ( Pangeran Yang Pernah Menyeberang Ke Utara ). Putra kedua bernama Raden Suryawiyata, kelak dikenal dengan gelar Pangeran Sekar Seda Lepen ( Bunga Yang Gugur Ditepi Sungai ). Yang ketiga Pangeran Trenggana, kelak terkenal dengan gelar Sultan Trenggana. Yang keempat seorang putri, yang kelak dinikahkan dengan bangsawan Pasai yang tersohor, Fatahillah.

Pada tahun 1511 Masehi, terdengar kabar di Jawa, Kesultanan Malaka berhasil dijebol pertahanannya oleh Kerajaan Portugis. Malaka dibawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah (1488-1511 Masehi) tidak mampu membendung serangan armada laut Portugis yang datang dari India. Dibawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque, Malaka berhasil dihancurkan! Laksmana handal Malaka, Hang Tuah, gugur!

Malaka jatuh! Penyerangan ini dipicu oleh sikap Kesultanan-Kesultanan Islam yang diskriminatif dalam hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa yang mayoritas beragama Nashrani. Faktor lain yang menyebabkan bangsa Eropa berlomba-lomba ingin menguasai wilayah kaya rempah-rempah adalah jatuhnya kota Constantinopel, ibu kota Kerajaan Romawi Timur pada tahun 1453 ketangan Kesultanan Turki Utsmani. Kerajaan Romawi Timur tunduk dibawah kekuasaan kaum Islam. Hal ini mengakibatkan tertutupnya perdagangan di Laut Tengah bagi bangsa Eropa. Kesultanan Turki mempersulit para pedagang Eropa beroperasi diwilayahnya. Padahal bangsa Eropa memerlukan pasokan rempah-rempah.

Hal ini pulalah yang memicu munculnya semangat ekstrim bangsa Eropa yang dikenal dengan semangat RECONQUESTA, yaitu semangat membalas dendam kepada kekuasaan Islam dimanapun berada! Politik konfrontasi dikedepankan oleh bangsa Eropa terhadap Kesultanan-Kesultanan Islam diseluruh dunia. Dan Malaka, kini menjadi sasarannya! Jatuhnya Malaka adalah suatu keberhasilan luar biasa bagi Portugis, karena Malaka adalah pusat perdagangan Islam di Asia Tenggara kala itu!

Kabar kejatuhan Malaka membuat Kesultanan-Kesultanan Islam di Nusantara geger! Raden Patah, penguasa Kesultanan Islam Jawa, Demak Bintara, tak kalah berang!

Malaka adalah jalur utama perdagangan Nusantara. Jika Malaka dikuasai Portugis, maka pedagang-pedagang Islam akan kesulitan melakukan kegiatan perekonomian. Maka, atas fatwa Dewan Wali Sangha, Sultan Syah Alam Akbar Jiem Boen-ningrat I, penguasa Demak Bintara, mengutus putra sulungnya, Raden Yunus memimpin Armada Laut Demak untuk menyerang Malaka!

Pada tahun 1513, dua tahun setelah kejatuhan Malaka ditangan Portugis, beribu-ribu Armada Laut Demak berlayar menuju Malaka dengan persenjataan lengkap! Peperangan sekali lagi akan terjadi! Malaka, sekali lagi akan dijadikan ajang pertumpahan darah! Pertumpahan darah yang dipicu oleh masalah politik, ekonomi dan agama!

Peperangan-pun pecah! Portugis mati-matian membendung serangan besar-besaran dari Lasykar Jawa! Portugis terpukul mundur!Lasykar Jawa begitu dahsyatnya! Beberapa wilayah Malaka berhasil diduduki Lasykar Jawa! Namun sayang, penyerangan ini tidak disertai dukungan penuh dari pihak Malaka! Malaka diam-diam malah mempersulit gerak laju Lasykar Jawa! Mereka takut, jika Portugis berhasil dipukul mundur, maka sekali lagi, Malaka akan jatuh ketangan orang-orang Jawa seperti saat Majapahit berkuasa! Suatu alasan yang klasik dan ironis!



PEPERANGAN ARMADA DEMAK DENGAN ARMADA PORTUGIS DI MALAKA (1513 Masehi)

Dan pada akhirnya, Portugis berhasil memukul mundur Lasykar Demak Bintara dari Malaka! Kekalahan telak bagi Demak! Sisa-sisa Pasukan Laut Demak akhirnya bertolak kembali ke Jawa.

Untuk mengenang peristiwa ini, maka Raden Yunus, pemimpin Lasykar Demak yang menyerang Portugis di Malaka,mendapat gelar kehormatan, Pangeran Sabrang Lor ( Pangeran Yang Pernah Menyeberang ke Utara)

Lima tahun setelah penyerangan, yaitu pada tahun 1518 Masehi, Raden Patah wafat.Raden Yunus lantas terpilih menggantikan ramandanya dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Jiem Boen-ningrat II.

Begitu Raden Yunus memegang tampuk pemerintahan Demak, politik garis keras Islam semakin ekstrim dia terapkan. Hal ini terpicu oleh masuknya bangsa Eropa ke Nusantara. Namun efek balik dari diterapkannya politik yang radikal ini, membuat para bangsawan Majapahit yang masih berpegang pada keyakinan Shiwa Buddha ikut terkena imbasnya.

Tiga tahun kemudian, tepat pada tahun 1521 Masehi, Raden Yunus terbunuh oleh sisa-sisa lasykar Majapahit yang merasa semakin tersudutkan. ( Dalam berbagai cerita tradisional, dikisahkan Keris Kyai Naga Sasra menggigit punggung Raden Yunus hingga wafat : Damar Shashangka). Raden Yunus belum memiliki seorang putra. Hal ini mengakibatkan Dewan Wali Sangha harus menunjuk adik Raden Yunus untuk memegang tampuk pemerintahan Demak.

Pangeran Trenggana, Sultan Demak ke III

Dewan Wali Sangha terpecah menjadi dua kubu menjelang pemilihan Sultan Demak pengganti Raden Yunus. Sebagian mengusulkan Raden Suryawiyata, putra kedua Raden Patah sebagai pengganti, dan sebagian yang lain mengusulkan Pangeran Trenggana, putra ketiga Raden Patah sebagai penggantinya.

Kala itu, Dewan Wali Sangha dipimpin oleh Sunan Giri Dalem, putra Sunan Giri Kedhaton yang telah wafat pada tahun 1506 Masehi. Parktis, kedudukan Sultan di Giri-pun dugantikan oleh Sunan Giri Dalem. Banyak para wali sepuh yang sudah wafat dan digantikan oleh para wali muda. Namun ada dua orang wali yang masih hidup dan sangat-sangat disegani. Keduanya adalah Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus.

Sunan Kudus kini menjabat sebagai Penasehat Agung Kesultanan Demak. Jabatan sebagai Senopati telah dilepaskannya. Sedangkan Sunan Kalijaga tetap bermain dibelakang layer. Beliau diam-diam menggembleng trah Tarub, terutama Raden Getas Pandhawa, putra Raden Bondhan Kejawen. (Baca catatan saya Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka). Selain itu, beliau juga tengah menunggu Mas Karebet, putra Ki Ageng Pengging yang kini tinggal di Tingkir untuk beranjak dewasa.

Dan Raden Getas Pandhawa, adalah guru dari Pangeran Trenggana. Praktis, Pangeran Trenggana adalah cucu murid Sunan Kalijaga. Dan oleh karena itulah, Pangeran Trenggana lebih pro ke Islam Abangan.

Dilain pihak, Raden Suryawiyata, berguru dan bahkan dianggap sebagai murid emas oleh Sunan Kudus. Oleh karena itu pula, Raden Suryawiyata lebih pro ke Islam Putihan.

Persaingan antara kubu Putihan dan Abangan ini kembali meruncing setelah beberapa waktu lalu, disaat pemerintahan Raden Patah sempat mereda. Dan persaingan semakin memanas setelah Raden Yunus wafat karena terbunuh!

Atas bantuan Sunan Kalijaga yang berhasil melobi pimpinn Dewan Wali Sangha, Sunan Giri Dalem, suksesi pencalonan Pangeran Trenggana sebagai Sultan ketiga Demak, berhasil gemilang! Pangeran Trenggana berhasil menduduki tahta Demak Bintara menggantikan Raden Yunus dan berhak menyandang gelar Sultan Syah Alam Akbar Jiem-Boen-ningrat III. Kubu Islam Abangan berhasil memenangkan pertarungan politik. Hal ini terjadi pada tahun 1521 Masehi.

Raden Suryawiyata menolak mengakui adiknya sebagai seorang Sultan Demak. Segera setelah dikukuhkannya Pangeran Trenggana sebagai Sultan, Raden Suryawiyata, yang berkedudukan di Kadipaten Jipang Panolan ( Sekarang sekitar wilayah Blora, Jawa Tengah : Damar Shashangka. ) segera mengadakan gerakan makar! Perlawanan bersenjata-pun terjadi! Peperangan berkobar antara Demak dengan Jipang Panolan. Diam-diam, Sunan Kudus berada dibelakang gerakan ini. Jipang Panolan dan Pesantren Kudus, sebenarnya berhubungan erat. Bahkan beberapa santri Sunan Kudus, diam-diam menyokong gerakan makar ini!


Peperangan berlangsung alot! Jipang Panolan sulit ditaklukkan! Namun, pada akhirnya kemenangan berhasil diraih pihak Pangeran Prawata. Raden Suryawiyata berhasil dipukul mundur dan harus melarikan diri dari Jipang Panolan. Peperangan benar-benar berhenti manakala Raden Suryawiyata berhasil dibunuh ditempat persembunyiannya.

Pangeran Prawata, putra sulung Pangeran Trenggana dan Pangeran Hadiri, menantu Pangeran Trenggana yang dinikahkan dengan Nimas Ratu Kalinyamat, (Pangeran Hadiri berkuasa didaerah Kalinyamat dan bergelar Pangeran Kalinyamat atau Sunan Kalinyamat. Sekarang berada didaerah Jepara, Jawa Tengah : Damar Shashangka ), berhasil menemukan persembunyian Raden Suryawiyata dan berhasil pula membunuh putra kedua Raden Patah tersebut!

Ada kisah menarik sehubungan dengan terbunuhnya Raden Suryawiyata. Manakala pasukan Jipang Panolan terpukul muncur, Raden Suryawiyata berhasil melarikan diri dan bersembunyi disuatu tempat. Konon, Raden Suryawiyata terkenal sangat sakti mandraguna. Tidak satupun senjata yang mampu melukainya, kecuali sebuah senjata pusaka yang dikenal dengan nama Keris Kyai Brongot Setan Kober. Dan keris ini hanya dimiliki oleh Sunan Kudus dan tersimpan di Pesantren Kudus!

Pangeran Trenggana tahu akan rahasia ini. Dia mengatur siasat jitu untuk menumpas habis lasykar Jipang Panolan. Pada suatu saat, Sunan Kudus, tanpa ada kepentingan yang jelas, dipanggil menghadap ke Demak Bintara. Sebagai seorang Penasehat Agung, mau tidak mau Sunan Kudus harus memenuhi panggilan Sultan Demak yang baru tersebut. Dengan diiringi beberapa santri pilihan dan di kawal pasukan Demak yang menjemputnya, Sunan Kudus berangkat dari Pesantren Kudus menuju Demak Bintara.

Selang beberapa waktu keberangkatan Sunan Kudus, menjelang tengah hari, Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri yang masih muda-muda, datang ke Pesantren Kudus dengan dikawal beberapa prajurid Demak. Mereka berdua mohon ijin menemui istri Sunan Kudus, konon mereka mendapat pesan dari Sunan Kudus yang kini tengah berada di Keraton Demak.

Istri Sunan Kudus mempersilakan mereka menghadap. Dihadapan istri Sunan Kudus, Pangeran Prawata mengatakan bahwa Sunan Kudus menyuruh mereka untuk mengambil Keris Kyai Brongot Setan Kober. Sunan Kudus tengah memerlukannya sekarang!

Karuan saja, istri Sunan Kudus mempercayainya. Dan tanpa menaruh rasa curiga sedikit-pun, istri Sunan Kudus memberikan Keris pusaka tersebut kepada Pangeran Prawata. Begitu Keris Kyai Brongot Setan Kober sudah ditangan, Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri mohon pamit!

Manakala Sunan Kudus pulang dari Keraton, betapa terkejutnya dia setelah mengetahui bahwa Kyai Brongot Setan Kober berhasil dibawa lari oleh Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri. Sunan Kudus marah besar! Seketika itu juga, Sunan Kudus mengirimkan kurir untuk menyampaikan kabar tersebut sekaligus mempertanyakan keberadaan Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri kepada Sultan Demak. Namun, Sultan Demak memberikan jawaban melalui kurir pula bahwasanya, dia tidak tahu menahu akan urusan tersebut!

Sunan Kudus dalam dilema. Dua orang Pangeran yang telah menipu istrinya adalah putra dan putra menantu Sultan Demak. Sunan Kudus tidak berani terang-terangan dan ceroboh mengambil tindakan. Walau dia telah sadar, dia telah ditipu mentah-mentah dan Sultan Demak pasti berada dibelakang semua kejadian ini. Secara diam-diam, Sunan Kudus memerintahkan murid-murid pilihannya untuk melacak keberadaan Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri. Dan dipihak Sultan Demak, keberadaan kedua Pangeran ini sengaja disembunyikan, walaupun secara diam-diam pula!

Pelacakan oleh murid-murid Sunan Kudus tidak membawa hasil. Keberadaan Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri bak raib ditelan bumi. Baru beberapa bulan kemudian terdengar kabar, Raden Suryawiyata telah terbunuh di suatu tempat, dipinggir sebuah sungai dengan Keris Kyai Brongot Setan Kober masih menancap dibelikatnya! Raden Suryawiyata lantas dikenal dengan gelar Pangeran Sekar Seda Lepen ( Pangeran Bunga Yang Meninggal Disungai ).

Sunan Kudus benar-benar merasa kecolongan. Tapi posisinya saat ini benar-benar terjepit semenjak Pangeran Trenggana menduduki tahta. Dia tidak bias berbuat apa-apa secara terang-terangan!

Yang berhasil membunuh Raden Suryawiyata, tak lain memang Pangeran Prawata. Setelah berhasil membawa lari Kyai Brongot Setan Kober, Pangeran Prawata diutus memimpin pasukan khusus yang melacak tempat persembunyian Raden Suryawiyata. Beberapa bulan kemudian, tempat persembunyian Pangeran Demak itu diketemukan!

Raden Suryawiyata hanya diikuti oleh beberapa pasukan Jipang yang tak seberapa. Dan beberapa pasukan ini bias dilumpuhkan dengan mudah oleh pasukan khusus Demak! Praktis, Raden Suryawiyata kini benar-benar tanpa pengawal. Dan kehadiran pasukan khusus Demak ini juga benar-benar tidak disadari oleh Raden Suryawiyata. Kala itu, dia tengah melakukan sembahyang Dzuhur, tepat dipinggiran sungai berbatu.

Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri mengendap-endap mendekati Raden Suryawiyata yang tengah bersembahyang. Suara derasnya aliran sungai benar-benar membantu menyamarkan gerakan kedua Pangeran sehingga tidak didengar oleh Raden Suryawiyata. Dan begitu sudah sedemikian dekat, Pangeran Prawata menghunus keris Kyai Brongot Setan Kober dan segera menikam belikat Raden Suryawiyata dari belakang! Tepat waktu itu, Raden Suryawiyata tengah dalam posisi duduk!

Raden Suryawiyata menjerit kesakitan! Tubuhnya roboh kesamping! Darah menyemburat dari belikatnya dan sebuah keris tertancap disana! Mata Raden Suryawiyata nyalang mencari siapa yang telah berani menikamnya! Dan mata Raden Suryawiyata tertambat pada Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri! Dengan menggeram marah, Raden Suryawiyata berkata :

“Prawata!!! Apa sira bidhog!! Ana wong sembahyang sinuduk wangkingan!!!”

(Prawata!!! Apa kamu buta!! Ada orang sembahyang ditusuk senjata!!!)

Namun, sesaat kemudian, Raden Suryawiyata tersungkur dan menghembuskan nafas terakhir dengan darah menggenangi batu tempat dia bersembahyang. Dan bersaman dengan itu, anehnya, mendadak pandangan mata Pangeran Prawata menjadi kabur…dan lama-lama, dunia berubah menjadi gelap gulita! Pangeran Prawata benar-benar menjadi buta mendadak!

Pangeran Prawata panik! Dengan dibantu Pangeran Hadiri, Pangeran Prawata dituntun kembali ketempat pasukan Demak berada dan segera memerintahkan secepatnya meninggalkan tempat tersebut. Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri lupa, bahwasanya Kyai Brongot Setan Kober masih menancap dibelikat mayat Raden Suryawiyata! Karena kepanikan akibat kebutaan yang mendadak, kedua Pangeran ini telah berbuat ceroboh!

Ada beberapa pasukan Jipang Panolan yang ternyata masih hidup dan bersembunyi. Mereka melihat langsung kejadian tersebut. Secepatnya mereka membagi tugas, sebagian menuju Pesantren Kudus untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Sunan Kudus dan sebagian merawat jenazah Raden Suryawiyata.

Beberapa hari kemudian, Sunan Kudus diiringi beberapa santrinya dating ketempat tersebut. Didapatinya, Raden Suryawiyata telah dikebumikan disana. ( Sampai sekarang saya belum mendapat informasi, dimana lokasi ini berada : Damar Shashangka.)

Keris Kyai Brongot Setan Kober, diserahkan kepada Sunan Kudus oleh salah seorang pasukan Jipang yang menjadi saksi kejadian itu. Diam-diam, Sunan Kudus menyimpan dendam tersendiri!

Raden Suryawiyata meninggalkan seorang anak laki-laki yang masih kecil di Kadipaten Jipang Panolan. Anak laki-laki putra satu-satunya Raden Suryawiyata ini, diambil anak angkat oleh Sunan Kudus. Kelak anak ini dikenal dengan nama ARYA PENANGSANG!.









RADEN PATAH (SULTAN SYAH ALAM AKBAR JIEM-BOEN-NINGRAT I ) (1478-1518 Masehi)

Sabtu, 17 April 2010

PENGANTAR PENULIS


Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Taufik serta Hidayahnya. Sehingga pada kesempatan ini dapat kami persembahkan sebuah tulisan sejarah ringkas KI AGENG TARUB yang dimakamkan di desa Tarub Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan Propinsi Jawa Tangah.
Sejarah ini berisi cerita tentang berbagai persoalan yang mampu menimbulkan daya khayal, daya kagum dan juga sekaligus daya kritik bagi masyarakat, mulai dari anak-anak yang seang tumbuh remaja sampai yah sudah dewasa.
Dalam Sejarah ini mengajarkan budi pekerti terselubung yang seolah-olah penuh rahasia, tetapi jika jeli dan pandai menangkap isi yang tersirat didalamnya serta mampu menangkap rahasia yang terselip dibalik sejarah tersebut, maka kita akan beruntung karena dapat menemukan nilai-nilai luhur peninggalan nenek moyang atau Leluhur kita yang sangat berharga ini.
Dalam Sejarah KI AGENG TARUB yang konon berhasil menikah dengan bidadari ini disajikan kepada para pembaca dengan tujuan agar generasi muda dapat mengenal suatu hal yang sebenarnya terjadi bukan hanya cerita fiktif belaka dan ini salah satu asset budaya bangsa kita yang patut kita uri-uri dan kita pelihara keberadaannya. Dari sejarah ini juga kita dapat memetik hikmah dan pelajaran yang berisi pendidikan Agama Islam dan juga pelajaran Budi Perkerti yang luhur dan nyaris punah dari hadapan kita ini.
Di satu sisi figur KI AGENG TARUB juga seorang tokoh di Tanah Pulau Jawa yang menurunkan tokoh-tokoh negarawan, dan tokoh-tokoh agama islam yang tersebar di seluruh tanah Jawa dan bahkan Nusantara tercinta ini.

Penulis
KRT. ASTONO ADIPURO
Juru Kunci Makam KI AGENG TARUB

SITUS MAKAM KI AGENG TARUB

SITUS MAKAM KI AGENG TARUB ( JOKO TARUB ) walau banyak yang mengaku disana sini tapi disini penulis tetap berkeyakinan bahwa situs makam yang asli adalah Makam KI AGENG TARUB yang berada di esa Tarub Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan Propinsi Jawa Tengah.Sebuah penelitian situs makam KI AGENG TARUB yang pernah dilakukan oleh Ibu AMBAR WIDYAWATI Alumnus UNES Tahun 2003 yang sekarang sebagai Pengajar di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri, sekitar 8 tahun lalu melakukan penelitian situs makam KI AGENG TARUB se EKS Karesidenan se Jawa Tengah beliau bersama mantan Dosennya Bapak SUKADARYANTO menuturkan ada 5 situs di jawa Tengah antara lain :

1. Di Desa Tarub Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan.
2. Di Desa Sani Kabupaten Pati.
3. Di Desa Tarub Kabupaten Karanganyar.
4. Di Desa Tarub Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal.
5. Di Desa Bulupitu Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen.

Namun menurut hasil penelitian beliau situs Makam Ki Ageng Tarub yang asli adalah situs makam yang berada di Desa Tarub Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Disamping dari hasil penelitian yang dilakukan Ibu AMBAR tersebut untuk menambah keyakinan bahwa makam KI AGENG TARUB yang asli ada di Desa Tarub Kecamatan Tawangharjo Grobogan adalah setiap tahun di laksanakan Haul Ki AGENG TARUB selalu di hadiri dari Jajaran Karaton Surakarta Hadiningrat seperti Gusti Kanjeng Ratu ( GKR ) Wandansari, Gusti Kanjeng Ratu ( GKR ) Ayu Koes Indriyah, GKR Galuh dan yang lainnya dan setiap beliau-beliau memberikan sambutan pasti mengatakan bah dsinilah letak Makam KI AGENG TARUB yang sebenarnya kepada para hadirin.

Senin, 01 Februari 2010

SEJARAH SINGKAT JOKOTARUB


Kurang lebih pada tahun 1300 M ada utusan ( Mubaligh ) dari Arab yaitu Syeh Jumadil Kubro beliau mempunyai putri bernama Thobiroh dan Thobiroh mempunyai putra Syeh Maulana Maghribi. Pada saat itu beliau mendapat perintah untuk mengembangkan Syiar agama Islam di Tanah Jawa, karena pada saat itu orang-orang jawa masih memeluk agam Budha serta pada saat itu juga orang-orang jawa masih ahli dalam bertapa dalam hal mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, sehingga orang-orang Tanah Jawa banyak yang istilah jawa disebut “ Ora Tedhas Papak Palu ning Pande “ ( Kebal kulitnya terhadap senjata apapun ).

Kemudian Syeh Maulana Maghribi mulai memasukkan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat Jawa dalam berKhalwat untuk mendekatkan diri kepada ALLAH dengan cara bertapa pula sehingga seperti budaya masyarakat Jawa yang masih beragama budha dengan maksud untuk menarik perhatian masyarakat jawa untuk bias memeluk agama Islam. Namun cara bertapa yang dilakukan oleh Syeh Maulana Maghribi lain dengan cara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa umumnya, Syeh Maulana Maghribi dalam bertapa dengan cara naik ke atas pohon dengan menggelantungkan badannya seperti kelelawar cara seperti ini oleh masyarakat Jawa disebut dengan bertapa Ngalong ( Kalong ) kemudian dalam bertapa Syeh Maulana Maghribi bertemu dengan putrid Bupati Tuban I yang bernama DEWI RETNO ROSO WULAN adik perempuan R. Sahid ( Sunan Kalijaga ). Yang saat itu Dewi Retno Roso Wulan diperintah oleh Ayahandanya Adipati Wilotikto untuk melakukan bertapa Ngidang dengan cara masuk hutan selama 7 tahun tidah boleh pulang dan tidak boleh makan kecuali makan daun-daun yang berada di hutan.

Perintah bertapa ini dilakukan oleh Dewi Retno Roso Wulan agar supaya cita-citanya untuk bertemu dengan kakaknya Raden Sahid dapat terwujud. Namun dalam proses pencarian R. Sahid berjalan ia bertemu dengan Syeh Maulana Maghribi, pertemuan ini terjadi pada saat masih menjalankan bertapa, dan dari pertemuannya ini mereka terjalin rasa saling mencintai dan saling ada kecocokan yang akhirnya menjadi suami istri . Pertemuan keduanya yang sudah menjadi suami istri, dilanjutkan dengan pulang ke Adipati Tuban untuk menghadap Ayahandanya, tetapi Dewi Retno Roso Wulan yang sudah dalam keadaan hamil pulang seorang diri dan tidak bersama suaminya Syeh Maulana Maghribi. Sesampainya di Kadipaten Tuban Dewi Retno Roso Wulan ditanya oleh Ayahandanya “ Siapa Suamimu, sehingga kamu pulang dalam keadaan hamil? “ Saat ditanya Dewi Retno Roso Wulan diam tidak menjawab karena rasa takutnya kepada ayahandanya, akhirnya Dewi Retno Roso Wulan kembali ke hiutan untuk mencari suaminya yaitu Syeh Maulana Maghribi ayah dari anak yang dikandungnya itu. Ditengah perjalanannya Dewi Retno Roso Wulan melahirkan seorang bayi laki-laki yang keliahatan lucu, tempat dimana Dewi Retno Roso Wulan melahirkan bayi itu sampai sekarang diberi nama Desa BABAR.

Setelah si Jabang bayi lahir niat untuk mencari Syeh Maulana Maghribi ayah dari bayi itu oleh Dewi Retno Roso Wulan tetap dilanjutkan dan saat mencari ayah si bayi Dewi Retno Roso Wulan masih dalam keadaan bertapa. Kemudian bayi di letakkan di Sendang ( Mata Air. Red ) dekat Syeh Maulana Maghribi bertapa diatas pohon Giyanti. Setelah melihat istrinya datang dengan bayinya Syeh Maulana Maghribi turun dari pertapaannya untuk menimang bayi yang putranya sendiri hasil pernikahannya dengan Dewi Retno Roso Wulan, entah ada rahasia apa yang kemudian bayi itu dibuatkan tempat yang sangat indah dan terbuat dari emas yang disebut BOKOR KENCONO.

Sementara itu Dewi Kasihan ditinggal wafat suami tercintanya yang bernama Aryo Pananggungan dan belum dikaruniai keturunan, karena sayangnya Dewi Kasihan terhadap suaminya walau sudah wafat setiap malam ia selalu menengok makam suaminya. Pada saat itu Syeh Maulan Maghribi membawa putranya yang telah dimasukkan ke Bokor Kencono kemudian diletakkan didekat makam Aryo Pananggungan tersebut.

Di malam itu juga kebetulan Dewi Kasihan keluar dari rumah menengok arah makam suaminya, ternyata didekat makam suaminya ada Bokor Kencono yang sangat indah tersebut dan ternyata didalamnya ada bayi yang sangat mungil dan sangat lucu.
Disaat itu pula Dewi Kasian sangat terperanjat hatinya ketika melihat si jabang bayi, lalu diambilnya jabang bayi itu lalu dibawa pulang. Kabar mengenai orang meninggal bias memberikan anak pada istri jandanya telah tersiar sampai kepelosok negeri.

Masyarakat berbondong-bondong ingin melihat kebenaran berita tersebut. Akhirnya Dewi Kasihan yang semula tidak memiliki harta benda namun dengan adanya kabar tersebut yang bisa mendatangkan banyak orang dan banyak memberikan uluran tangan kepada Dewi Kasihan sehingga lambat laun Dewi Kasihan menjadi kaya raya berkat uluran tangan dari orang-orang yang dating melihat bayi tersebut. Jabang bayi tersebut oleh Dewi Kasihan diberi nama JOKO TARUB.

Nama JOKO TARUB diambil dari kata TARUBAN yang diatas makam suaminya, karena saat jabang bayi diambil Dewi Kasihan berada diatas makam ARYA PENANGGUNGAN atau suaminya, dimana makam tersebut dibuat bangunan TARUBAN.

Pada usia kanak-kanak JOKO TARUBmempunyai kegemaran menangkap kupu-kupu di lading, setelah dewasa JOKO TARUB mulai berani masuk hutan untuk mencari burung-burung dihutan pada suatu saat Joko Tarub sedang mencari burung dihutan Joko Tarub bertemu dengan orang tua yang memberikan bimbingan ilmu Agama dan diberi aji-aji ( Pusaka. Red ) yang diberi nama “ TULUP TUNJUNG LANANG “.

Diwaktu mendapat pusaka berupa tulup tersebut JokoTarub langsung bergegas pulang untuk menyampaikan berita tersebut kepada ibu asuhnya yakni Dewi Kasian,selain itu juga Joko Tarub bercerita bahwa di tengah hutan Joko Tarub telah berjumpa dengan orang yang sudah sangat tua, dalam pertemuannya itulah Joko Tarub diberi Pusaka berupa sebuah TULUP ( Sumpit. Red ) yang diberi nama “ TULUP TUNJUNG LANANG “, mengingat rasa sayangnya kepada Joko Tarub anak satu-satunya Dewi Kasihan tidak memperbolehkan lagi Joko Tarub pergi ke hutan untuk mencari burung, mereka khawatir kalua anak satu-satunya ini diterkam binatang buas atau dibunuh orang yang tidak senang dengan Joko Tarub. Namun Joko Tarub tidak takut lebih-lebih sekarang dia telah memiliki bekal pusaka Tulup Tunjung Lanang, maka Joko Tarub masih saja senang masuk hutan untuk berburukususnya burung-burung.

Kebiasaan berburu burung tetap saja dilakukan oleh Joko Tarub sehingga pada suatu ketika saat Joko Tarub sampai di atas pegunungan, dia mendengar suara burung perkutut yang sangat indah sekali suaranya. Kemudian pelan-pelan Joko Tarub mendekati arah suara burung perkutut itu berada, setelah menemukannya langsung Joko Tarub melepaskan anak tulup itu kearah burung tersebut, namun usahanya gagal. Dan kegagalannya itu membuat si Joko Tarub berfiki dan beranggapan bahwa burung Perkutut itu pasti bukan sembarang burung atau bukan burung Perkutut biasa.

Usaha berburu burung dilanjutkan hingga terdengar lagi suara burung dari arah selatan, kemudian dia dekati lagi dengan sangat pelan-pelan lalu dilepaskannya lagi anak tulup kearah burung tersebut, akan tetapi tidak mengenainya lagi dan ternyata anak tulup justru mengenai dahan pohon jati dimana burung perkutut itu hinggap dan bersuara. Dan tempat yang ditinggalkan burung perkutut tadi sekarang diberi nama “ KARANG GETAS “. Usaha berburu burung selalu gagal sehingga Joko Tarub merasa sedih, karena kesedihannya maka Joko Tarub memberinya nama “ DUKUH SEDAH “.

Kemudian terdengar lagi suara burung dari arah yang sama didekati dengan pelan-pelan dan pada posisi yang strategis dan burung dalam keadaan terpojok, maka anak Tulup pun kembali dilepaskan namun tidak kena lagi dan burung pun terbang kea rah selatan lagi, dan tempat tersebut diberi nama “ DUKUH POJOK “. Akan tetapi Si Joko Tarub pemuda yang tidah mudah putus asa maka upaya memburu burung perkutut tadi terus saja dilakukan. Burung perkutut yang dia buru tadi terbang kea rah selatan terus dan hinggap di sebuah pohon asam, Joko Tarub selalu berusaha melepaskan anak tulupnya kearah burung tersebut akan tetapi usahanya selalu gagal dan burung itu terbang lagi menuju arah selatan terus. Dan tempat burung perkutut hinggap di pohon asam tadi dan tempat yang ditinggalkan diberi nama “ DUKUH KARANGASEM “

Sambil mengejar burung perkutut yang selaluterbang menuju arah selatan Joko tarub sambil merenungi burung tersebut, dalam ucapannya mengatakan ini burung yang wajar ataukah burung yang merupakan godaan? Dan tempat Joko Tarub merenungkan burung tersebut maka diberi nama “ DUKUH GODAN”. Setelah merenung sesaat lantas Joko Tarub kembali bergegas untuk mengejar burung buruannya tadi yang menuju kea rah selatan dan terus keselatan, dan tempat melihat burung terbang menuju arah selatan Joko Tarub memberikan nama “ DUKUH JENTIR”.

Karena kemauannya yang keras Joko Tarub terus berusaha mengejar dan melacak kea rah selatan dimana burung perkutut tadi terbang, ketika saat pencariannya Joko Tarub tiba disuatu tempat yakni SENDANG TELOGO dan di tepi sendang itu Joko Tarub Menancapkan Tulup Pusakanya, karena saat itu tiba waktunya Sholat Dzuhur, sambil istirahat Joko Tarub menuju kearah sendang untuk mengambil air wudlu untuk Sholat Dzuhur. Disaat Joko Tarub berwudlu tiba-tiba datanglah bidadari untuk mandi, saat itu pula ada salah satu pakain dari bidadari yng diletakkan diatas Tulup Pusaka Joko Tarub yang sedang ditancapkan ditepi sendang, setelah habis wudlu dan sholat dzuhur Joko Tarub langsung pulang tanpa membawa buah hasil buruannya kemudian sesampainya dirumah Joko tarub laporan kepada ibunya sambil berkata “ Ibunda saya berburu hari ini tidak mendapatkan satu burung pun, akantetapi saya hanya mendapatkan pakain perempuan yang ditaruh diatas tulup saya dan dia sedang mandi di SENDANG TELAGA……”

Tanpa banyak bertanya sang Ibu langsung menyimpan pakaian tersebut di ruang kusus untuk menumpuk padi ( Lumbung.red ), kemudian Joko Tarub bergegas kembali lagi ke sendang dengan membawa pakaina ibunya, setelah sampai di dekat sendang ternyata para bidadari sudah terbang, dan masih ada yang tertinggal satu bidadari yang masih berada di tepi sendang Telogo dengan menangis sedih sambil berkata “ Sopo sing biso nulung aku, yen wadon dadi sedulur sinoro wedi, yen kakung tak dadekke bojoku “ artinya “ Barang siapa yang bis menolong aku jika dia perempuan aku jadikan saudaraku dan jika dia laki-laki maka akan saya jadikan suami” disaat itu Joko Tarub mendekat di bawah pohon sambil melontarkan pakaian ibunya tadi, setelah berpakaian bidadari itu langsung diajak pulang ke rumah ibunya dan disampaikan kepada ibunya bahwa putrid ini adalah putri Sendang Telogo.

Sesuai dengan Ikrar atau janji sang bidadari yang menyatakan “ Sopo sing biso nulung aku, yen wadon dadi sedulur sinoro wedi, yen kakung tak dadekke bojoku “, akhirnya Joko Tarub menikah dengan bidadari yang bernama DEWI NAWANG WULAN. Adapun sendang yang digunakan untuk mandi bidadari diberi nama “ SENDANG TELOGO BIDADARI “ yang berada di DUKUH SREMAN desa POJOK Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Tanah Sendang Telaga Bidadari tersebut milik Keraton SURAKARTA HAININGRAT atau disebut TANAH PERDIKAN, dan sampai saat ini lokasi Sendang Bidadari oleh masyarakat masih dikeramatkan kususnya pada malam 10 Muharam.

Setelah Joko Tarub menikah dengan Dewi Nawang Wulan mendapat gelar KI AGENG atau SUNAN TARUB, beliau menyebarkan Agama islam untuk meneruskan perjuangan ayahandanya yakni Syekh Maulana Maghribi. Dalam pernikahannya beliau dikaruniai seorang keturunan yang diberi nama DEWI NAWANGSIH.

bersambung............................................